Tuesday, May 24, 2011

Telor Ceplok yang Membuat Menangis

April 26, 2009 (posted in my FB Notes)
Reading this, brings back all my feelings those days.


========


Beberapa waktu lalu, saya mengalami sedikit guncangan dalam hidup.
Berusaha menyembuhkan diri sendiri, saya menyepi ke Bandung.
Kelaparan, kesepian, sedih, saya tahu satu tempat yang saya tuju: rumah sahabat.

Rumah sahabat saya tidak besar dan mewah. Tapi rumah itu benar2 terasa seperti tempat untuk pulang yang nyaman.. Mainan berserakan, ada runtuhan rambut hihi, terlihat yang punya agak keteteran :)

Tapi sahabat saya yang tahu betul saya tak suka dipeluk kalau lagi sedih benar-benar mengerti saya tanpa perlu didikte.
Dia duduk, dan berceloteh kian kemari. Kadang saya menggerundel dan dia akan menanggapi, entah nyambung atau nggak kami gak peduli.

Perut saya pedih, belum makan seharian.

"Gue belum makan,".
Dia menjawab, "Hari ini gue gak masaak. Tapi ada nasi sih.. Lo mau telor ceplok?".
"Yes, please..."

Cukup heboh juga dia berkutat di dapur, tak lama sepiring nasi hangat, telor ceplok dan kecap terhidang di muka saya..

Saya makan dengan sangat lahap.
Teringat di lidah rasa makanan itu, enaak sekali.
Tak terasa air mata menggenang di sudut mata.
Saya makan sambil menahan tangis.
Bukan, bukan karena makanannya terlalu sederhana.
Tapi karena saya merasakan sendiri karunia Tuhan yang sangat indah; orang, tak berhubungan darah, yang mau menyediakan tempat berteduh bagi saya di kala saya susah, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa...

Saya bisa menginap di hotel.
Bisa makan steak kalau mau.
Bisa clubbing cari teman kalau butuh.
Tapi saya tahu saya tidak butuh itu semua. Saya punya seorang sahabat yang menerima saya apa adanya.
And it goes right back at you, dear!

I might not say it loud enough, but those moments are well-kept in my heart :*

Thank you, for being there, always.

1 comment:

  1. Sahabat telor ceplok susah dicari kayanya :D

    ReplyDelete