You said the last thing you want to do is to hurt me,
and I said I'm a different person, now.
You can't hurt me anymore. I'm a grown up.
It's true.
In the past, you hurt me too much, I learned not to expect anything from you.
Every time I hope, I hurt. So I stopped hoping.
I just accept that I can't be with you.
That there is no hope for you and me.
I really stop hoping.
But I never stop loving.
The pain you gave me, left me a wound that would never heal.
After a long time, I learned to live with it.
Accept it. Embrace it.
So that I learn unconditional love.
I love you, just the way you are.
No matter how much you hurt me, left me, tore me with the feelings of rejection, unwanted, and unloved,
I still love you.
When people hate you, saying bad things about you, I still love you.
I can see that in the future, no matter what will happen, I will still love you.
I'm not a holy person by doing this, I'm forced to.
Every time I resist, the pain echoes.
Your happiness becomes my happiness.
When you're hurt, I'm the one who hurts more.
No body wants you happy more than me.
I love you, just by being you.
Sending you prayers makes me glad.
Seeing your smiles makes my world goes round.
This is the great lesson I had, in this life.
You are a big phase of my life, as I saw the cuts I made when I wanted to divert heart pain to physical pain.
But it is okay.
I am now okay. I grew up. I survived. And I love you, always.
I will be your friend, whenever you're lonely.
I will be your lover, whenever you're cold.
I will be your home, whenever you're tired.
Maybe some will pity me and think I'm crazy,
but I'm happy.
Loving you makes me happy.
So, all I want you to do is just stay
and be happy.
Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts
Monday, March 05, 2012
Sunday, February 19, 2012
i don't know
![]() |
| elsa mora's art "Fallen Tree" |
There were two, you and me.
But now, I guess I'm alone.
You're not here anymore.
I see you, but I don't see you.
When I couldn't breath, you weren't there
When I wanted to cry, you weren't there
When I felt it's the end of everything, you weren't there
So, I guess I'm all alone, now.
You used to promise that we will always be together.
No matter how hard, you'd always be there for me.
You used to say, that you and me are destined to be one,
but now, where is my half?
I called you, shouted you, many times, many occasions.
You. weren't. there.
I am shaking,
with this heart of mine,
will it stops ticking? I don't know.
I used to care, because I wanted to be with you.
Now, I don't know whether I should care or not.
Is it the end?
the story of you and me?
Saturday, January 28, 2012
Dream
Another dream,
but this one during the day.
You were there.
You waited for me, but I walked away.
You were going to another direction, so I didn't want to get in your way.
After that, I was caught in a storm.
Wet, soaked, and sad.
Cold, I went to a place to dry myself.
Found a towel and warm myself.
A stranger saw me and picked me up.
Without hesitation, he picked me up.
Took care of me.
Who would save me? It wasn't you.
It was a stranger. Who would pick me up?
It wasn't you. As always, you would just stare and leave me.
Thinking I'm strong enough, brave enough without you.
I'm not the same person as I used to be.
I'm not longing for you. I don't need to be saved.
I am cold, but I'm okay with that.
In my pain, I'm free....
but this one during the day.
You were there.
You waited for me, but I walked away.
You were going to another direction, so I didn't want to get in your way.
After that, I was caught in a storm.
Wet, soaked, and sad.
Cold, I went to a place to dry myself.
Found a towel and warm myself.
A stranger saw me and picked me up.
Without hesitation, he picked me up.
Took care of me.
Who would save me? It wasn't you.
It was a stranger. Who would pick me up?
It wasn't you. As always, you would just stare and leave me.
Thinking I'm strong enough, brave enough without you.
I'm not the same person as I used to be.
I'm not longing for you. I don't need to be saved.
I am cold, but I'm okay with that.
In my pain, I'm free....
Saturday, November 26, 2011
Dilarang Patah Hati
Kemarin dalam perjalanan pulang ke rumah, di tengah kemacetan Senayan, radio mobil memutarkan sebuah lagu Indonesia lama. Nada-nada mellow-nya membawa saya kembali ke sebuah masa. Masa di mana hati saya sedang terluka parah dan rasanya takkan ada obatnya. Sedih sekali. Dalam keriuhan macet malam kemarin, saya ingin menangis. Bodoh ya? Saya melihat sosok diri saya beberapa tahun yang lalu, dan mengasihani "Azza yang itu".
Patah hati itu berat, Jendral.
Kamu tahu ada di dalam dirimu yang sakit, tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengobatinya.
Rasanya helpless dan hopeless sekali.
Kalau kita luka, kita bisa mengoleskan obat, atau pergi ke dokter. Kalau hati kita yang luka?
Sering kali kita bicara pada orang lain untuk membagi luka itu, sehingga tidak terasa terlalu berat.
Saat itu, saya tidak ingin membaginya dengan siapapun.
Egois. Bahkan sakit yang dia sebabkan pun, harus cuma saya yang mengetahui dan merasakannya.
Yang terburuk dari patah hati adalah perasaan tidak diinginkan.
Perasaan bahwa kita tidak berharga. Perasaan bahwa kita ditinggalkan.
Kalikan sejuta bila yang mengakibatkan rasa itu adalah seseorang yang benar-benar kita cintai.
Bukan dia yang kita tahu cuma sekejap mengisi fase hidup kita.
Bukan dia yang cuma kita sukai keberadaannya.
Tapi dialah seseorang yang menerangi hidup kita.
Yang membuat dunia menjadi berwarna. Yang membuat hidup sangat berarti.
Saya sering menatap langit dan berpikir bahwa setidaknya kami masih hidup di bawah "atap langit" yang sama.
Pathetic, right? ;)
But no, I didn't hate this person.
Yang sungguh membingungkan saya dari sosok orang ini adalah;
saya tahu dia menyayangi saya, tapi dia hobi sekali menyakiti saya.
Saya berani bersumpah bahwa rasa itu ada di dalam dirinya, tapi entah kenapa, dia tega sekali menyakiti saya berkali-kali.
Pertama kali, saya masih menganggapnya cinta monyet. Saya yang bodoh. Saya lupakan dia.
Lalu dia datang lagi. Kami dekat. Dia memutuskan untuk menjauh. Kami jauh. Saya hancur.
Suatu saat, dia datang lagi. Setelah itu menghilang. Saya hancur lagi.
Dan setelah bertahun-tahun, datang lagi. Dan kami dekat lagi...
Dan dia pergi lagi... Kebodohan tiada tara.
4 kali mungkin saya patah hati karena pria yang sama.
Saya bukan lagi keledai, mungkin saya kedelai.
Entah kenapa. Entah bagaimana. Saya selalu menerima dia kembali.
Padahal setiap kali dia pergi meninggalkan saya secara sepihak, hati saya rasanya tercabik-cabik dan tak mungkin utuh kembali. Saya merasa bukan manusia lagi, karena sedih sekali rasa dibuang, tidak dipedulikan, tidak dianggap ada oleh dia yang membuat hidup jadi berarti.
Instead of hating him, I pray for him. And paid revenge to lots of guys, instead.
Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dia lagi.
Dan tidak, kami tidak "dekat" seperti dulu lagi.
Meski saya tetap protes pada Tuhan kenapa mahluk tak berperasaan ini selalu menyakiti saya.
Kalau saya tidak mengerti alasannya, saya tidak akan pernah berhenti bertanya dan penasaran.
Lalu Tuhan akhirnya menjawab dengan caraNya sendiri...
Karma. 1 kata saja. Dan saya terdiam, lalu menunduk.
Akhirnya... terjawab. Saya terima, saya pasrah, saya ikhlas.
Saat itu saya juga sudah mencapai taraf unconditional love pada orang ini.
Tidak ingin memiliki. Tidak ingin berharap apapun. Tidak ingin apa-apa dari dia.
Hanya searah mendoakan dia, ingin melihat dia bahagia, ingin melihat dia tidak letih lagi dalam pencariannya.
Tidak ingin menguasai. Tidak ingin dilihat seperti dulu lagi.
Sakit yang dia ciptakan, mengajarkan saya lebih dewasa, naik tingkat ke level mencintai manusia lain dengan sesuci-sucinya. True love? I don't know. Saya berani bilang, saya terima dia dengan baik & buruknya. Mungkin perempuan-perempuan yang rela dipoligami dengan alasan cinta merasakan hal yang sama. Mereka tak peduli lagi dengan ego ingin memiliki seorang lelaki seutuhnya.
Bisa jadi mampu membahagiakan orang tersebut saja sudah sebuah anugerah.
Pagi tadi saya terbangun. Berolah raga. Dan banyak termenung.
Meraba dada, terasa sakit. Ada apa dengan hati ini yang sejak kemarin senang bermain drama?
Saya sudah mengikhlaskan semua rasa. Saya tak ingin kembali ke masa-masa itu.
Bila ada di antara kalian yang belum pernah merasakan ingin mati karena hidup terasa terlalu menyakitkan, saya setulusnya mendoakan kalian tidak pernah merasakannya.
Ada masanya saya merasa bernafas pun sulit. Hidup namun seakan tidak berada di alam ini.
Salah satu yang ekstrim adalah ketika saya menyupir sambil memejamkan mata dari Lembang ke Bandung, dengan memastikan suasana sangat sepi saat itu, sehingga saya tidak akan menabrak manusia.
Saya sering melakukan hal-hal seperti itu. Menantang maut, karena berpikir mungkin sakitnya akan hilang bila saya tidak hidup lagi.
Atau pada satu kesempatan mengambil silet, dan mengiris sedikit tangan.
Bukan, bukan karena gila atau ingin mati. Tapi supaya rasa sakit di tangan melebihi sakit di hati, jadi sakitnya bisa teralihkan.
Jadi, jangan patah hati. Rasanya setengah mati.
Namun kalau kamu tidak pernah patah hati, bisa jadi karena kamu tidak berani mempercayakan hatimu pada orang lain. Dan saya pun tak ingin itu terjadi.
Saya mempercayai orang ini, 4 kali. Dan tidak berhasil. Dan kemungkinan untuk tidak disakiti oleh orang lain itu hampir tidak ada. You just have to take the risk, if you think it's worth the reward.
Dan malam ini, saya masih mengelus-elus dada yang nakal ini... Ada apa ya?
:)
Patah hati itu berat, Jendral.
Kamu tahu ada di dalam dirimu yang sakit, tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengobatinya.
Rasanya helpless dan hopeless sekali.
Kalau kita luka, kita bisa mengoleskan obat, atau pergi ke dokter. Kalau hati kita yang luka?
Sering kali kita bicara pada orang lain untuk membagi luka itu, sehingga tidak terasa terlalu berat.
Saat itu, saya tidak ingin membaginya dengan siapapun.
Egois. Bahkan sakit yang dia sebabkan pun, harus cuma saya yang mengetahui dan merasakannya.
Yang terburuk dari patah hati adalah perasaan tidak diinginkan.
Perasaan bahwa kita tidak berharga. Perasaan bahwa kita ditinggalkan.
Kalikan sejuta bila yang mengakibatkan rasa itu adalah seseorang yang benar-benar kita cintai.
Bukan dia yang kita tahu cuma sekejap mengisi fase hidup kita.
Bukan dia yang cuma kita sukai keberadaannya.
Tapi dialah seseorang yang menerangi hidup kita.
Yang membuat dunia menjadi berwarna. Yang membuat hidup sangat berarti.
Saya sering menatap langit dan berpikir bahwa setidaknya kami masih hidup di bawah "atap langit" yang sama.
Pathetic, right? ;)
But no, I didn't hate this person.
Yang sungguh membingungkan saya dari sosok orang ini adalah;
saya tahu dia menyayangi saya, tapi dia hobi sekali menyakiti saya.
Saya berani bersumpah bahwa rasa itu ada di dalam dirinya, tapi entah kenapa, dia tega sekali menyakiti saya berkali-kali.
Pertama kali, saya masih menganggapnya cinta monyet. Saya yang bodoh. Saya lupakan dia.
Lalu dia datang lagi. Kami dekat. Dia memutuskan untuk menjauh. Kami jauh. Saya hancur.
Suatu saat, dia datang lagi. Setelah itu menghilang. Saya hancur lagi.
Dan setelah bertahun-tahun, datang lagi. Dan kami dekat lagi...
Dan dia pergi lagi... Kebodohan tiada tara.
4 kali mungkin saya patah hati karena pria yang sama.
Saya bukan lagi keledai, mungkin saya kedelai.
Entah kenapa. Entah bagaimana. Saya selalu menerima dia kembali.
Padahal setiap kali dia pergi meninggalkan saya secara sepihak, hati saya rasanya tercabik-cabik dan tak mungkin utuh kembali. Saya merasa bukan manusia lagi, karena sedih sekali rasa dibuang, tidak dipedulikan, tidak dianggap ada oleh dia yang membuat hidup jadi berarti.
Instead of hating him, I pray for him. And paid revenge to lots of guys, instead.
Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dia lagi.
Dan tidak, kami tidak "dekat" seperti dulu lagi.
Meski saya tetap protes pada Tuhan kenapa mahluk tak berperasaan ini selalu menyakiti saya.
Kalau saya tidak mengerti alasannya, saya tidak akan pernah berhenti bertanya dan penasaran.
Lalu Tuhan akhirnya menjawab dengan caraNya sendiri...
Karma. 1 kata saja. Dan saya terdiam, lalu menunduk.
Akhirnya... terjawab. Saya terima, saya pasrah, saya ikhlas.
Saat itu saya juga sudah mencapai taraf unconditional love pada orang ini.
Tidak ingin memiliki. Tidak ingin berharap apapun. Tidak ingin apa-apa dari dia.
Hanya searah mendoakan dia, ingin melihat dia bahagia, ingin melihat dia tidak letih lagi dalam pencariannya.
Tidak ingin menguasai. Tidak ingin dilihat seperti dulu lagi.
Sakit yang dia ciptakan, mengajarkan saya lebih dewasa, naik tingkat ke level mencintai manusia lain dengan sesuci-sucinya. True love? I don't know. Saya berani bilang, saya terima dia dengan baik & buruknya. Mungkin perempuan-perempuan yang rela dipoligami dengan alasan cinta merasakan hal yang sama. Mereka tak peduli lagi dengan ego ingin memiliki seorang lelaki seutuhnya.
Bisa jadi mampu membahagiakan orang tersebut saja sudah sebuah anugerah.
Pagi tadi saya terbangun. Berolah raga. Dan banyak termenung.
Meraba dada, terasa sakit. Ada apa dengan hati ini yang sejak kemarin senang bermain drama?
Saya sudah mengikhlaskan semua rasa. Saya tak ingin kembali ke masa-masa itu.
Bila ada di antara kalian yang belum pernah merasakan ingin mati karena hidup terasa terlalu menyakitkan, saya setulusnya mendoakan kalian tidak pernah merasakannya.
Ada masanya saya merasa bernafas pun sulit. Hidup namun seakan tidak berada di alam ini.
Salah satu yang ekstrim adalah ketika saya menyupir sambil memejamkan mata dari Lembang ke Bandung, dengan memastikan suasana sangat sepi saat itu, sehingga saya tidak akan menabrak manusia.
Saya sering melakukan hal-hal seperti itu. Menantang maut, karena berpikir mungkin sakitnya akan hilang bila saya tidak hidup lagi.
Atau pada satu kesempatan mengambil silet, dan mengiris sedikit tangan.
Bukan, bukan karena gila atau ingin mati. Tapi supaya rasa sakit di tangan melebihi sakit di hati, jadi sakitnya bisa teralihkan.
Jadi, jangan patah hati. Rasanya setengah mati.
Namun kalau kamu tidak pernah patah hati, bisa jadi karena kamu tidak berani mempercayakan hatimu pada orang lain. Dan saya pun tak ingin itu terjadi.
Saya mempercayai orang ini, 4 kali. Dan tidak berhasil. Dan kemungkinan untuk tidak disakiti oleh orang lain itu hampir tidak ada. You just have to take the risk, if you think it's worth the reward.
Dan malam ini, saya masih mengelus-elus dada yang nakal ini... Ada apa ya?
:)
Saturday, September 10, 2011
Word Human
![]() |
| *getty* |
Kata orang, sebaiknya punya anak juga sebelum lewat 30 tahun.
Kata orang, jadi janda itu hal yang memalukan.
Kata orang, punya anak di luar nikah adalah hal yang sangat hina.
Kata orang, hanya orang yang beragama sama dengan mereka saja yang masuk surga.
Hidup kita diintimidasi dengan kata orang :)
Dan saya capek berpura-pura saya tidak capek mendengar.
Mendengar apa? Kata orang. Word human. Hahaha...
Kenapa orang senang sekali mengintimidasi orang lain untuk menikah cepat ya?
Anda pikir menikah itu nikmat? Seksnya? Uhmmm... tanyalah pada mereka yang sudah menikah lebih dari 5 tahun. Bahkan ada yang baru menikah 6 bulan pun sudah bosan :)) Beberapa teman saya bercerita kalau sering sekali mereka berdoa pasangannya cepat "puas" agar dia bisa segera tidur karena badannya sangat letih setelah bekerja seharian.
Setiap hari bertemu orang tercinta, apa rasanya? Dalam hati saya yakin banyak yang membaca akan menjawab "Too much juga sih sebenernya...". Yang membuat kita merasa sedikit berbahagia kalau dia pergi ke luar kota karena kita ada kesempatan merindukannya, dan begitu juga sebaliknya.
I will brutally tell you this: love is overrated.
In marriage, love won't last long. At the end, it will be about companionship, responsibility, agreement, cooperation, friendship, and everything else. Sex is not even in my top 10 list :))
You might not believe it, you might think I'm a cynic, but that's the truth. My truth.
You will realise that it's true: Nobody is perfect. Then you will regret your marriage because you're disappointed with him/her. Then you think you can find somebody better. Then you get divorced. Then you find somebody new. Then you get married again. And divorced again, maybe. Because it turns out, there's no perfect person for you. Because you are changing. And he is changing too. And your needs, your demands, are changing too. So you might love him now, but hate him a year from now.
And it's nobody's fault.
Seriously.
And if you're wise enough, smart enough, willing enough to fight your ego, you will come to this:
Acceptance. Not accepting that you're miserable hahaha, but accepting that he will never be the person that you want him to be, because he is another human being, not you. Not wanting to follow your ego whenever you demand him to bend. He has his own story. You have your own story. Don't push and mix it. Hold his hand, don't put leash on his soul.
Appreciate him for the way he is. And he will do the same.
Love is overrated. It doesn't last long.
You will learn to nurture "unconditional love" by accepting him, caring for him, loving him even when it seems impossible to do that. And I tell you, it's a vicious war.
Marriage is dangerous for you if you're not ready to jump in and accept some bruises.
They say oath with words "in sickness and health", well, accept lots of his sickness, sista! :)) As he will do the same for you.
So... Don't get married, just because you're 30, 40, 50, or 60.
Be happy by being yourself, not by finding Mr. Right.
Ignore those who kept asking "Kapan nikah?" by saying "Yang penting tuh, kapan masuk surga... Amiiin. Nikah saya sih nggak usah capek-capek kamu pikirin. Kasian kamunya..." Hahaha...
Learn to ignore "word human" or kata orang.
They don't care about you. Not really. They just can't control their mouths.
I've been married for 7 years, and I'm occassionally happy about it :))
But in times, I read in my FB how my fellow moms/wives missing their single-lady moments.
How they want to hang out with friends without being intimidated by their husbands, how they want to spend money on shoes & bags, not have to worrying about paying schools and stuff.
How they have the "right" to be "selfish". They miss that. And yes, I miss that too.
I'm very grateful with what I have now, but some of my friends are actually divorced to pursue their own version of happiness.
Being single is not bad. Being married is also not bad. It's all about preference.
And usually, you don't know what you got until it's gone :)
Live life to the fullest, chicas!
Tuesday, May 24, 2011
The Forbidden Love
Love should be beautiful,
when it's hurting you, it's not love.
Love should be simple,
when it's complicated, it's not love.
how many of us crawls this earth in search of love and acceptance?
how many of us, think that we have succeed; loving, accepting, understanding that one special person and having the same in return?
It is not love.
Love should give. Love shall not forget.
Love should flow. Love shall not count.
Love should grow. Love shall not die.
Or should Love?
Love within, is the answer, not the love without
Love yourself, it's the key, not search them outside
Loving is learning, learning is living. Love in life makes living worth the fight.
Love yourself, love your family, love your friends, love your co workers, love your enemies
But Love Not the hatred that turns you numb to love
Love Not the sadness that numbs you also from love
Love Not the revenge, self pity, self centered, ,all those that will drag your soul down.
You are SO Beautiful! You deserve nothing, but love.
when it's hurting you, it's not love.
Love should be simple,
when it's complicated, it's not love.
how many of us crawls this earth in search of love and acceptance?
how many of us, think that we have succeed; loving, accepting, understanding that one special person and having the same in return?
It is not love.
Love should give. Love shall not forget.
Love should flow. Love shall not count.
Love should grow. Love shall not die.
Or should Love?
Love within, is the answer, not the love without
Love yourself, it's the key, not search them outside
Loving is learning, learning is living. Love in life makes living worth the fight.
Love yourself, love your family, love your friends, love your co workers, love your enemies
But Love Not the hatred that turns you numb to love
Love Not the sadness that numbs you also from love
Love Not the revenge, self pity, self centered, ,all those that will drag your soul down.
You are SO Beautiful! You deserve nothing, but love.
Monday, May 09, 2011
Yang Dikecilkan & Yang Dibesarkan
Masih ingatkah?
Dulu saat pacaran, semua yang baik-baik dari dia yang kita ingat. Seakan dia manusia paling sempurna, mungkin setengah dewa.
Kalaupun ada kesalahan, itu dianggap manusia & sungguh wajar dilakukan.
Yang kecil dibesar-besarkan. Yang besar dikecil-kecilkan.
Lalu setelah pernikahan bertahun-tahun, sering sekali yang terjadi adalah sebaliknya.
Semua yang dia lakukan salah. Semua yang kita ucapkan basi. Semua komunikasi entah kenapa jadi terasa tak bergizi.
Sangat gampang melihat kekurangan-kekurangannya.
Sangat gampang melupakan kelebihan-kelebihannya.
Yang kecil dibesar-besarkan. Yang besar dikecil-kecilkan.
Begitulah manusia. Tidak pernah puas. Tidak gampang bersyukur. Dan amat gampang lupa.
Dulu kau bilang dia belahan jiwamu. Sekarang kau tak mau lagi berbagi hatimu dengan belahan jiwamu itu sendiri.
Untuk yang mau ketetapan hati; selamatkanlah dirimu dari kejaran nafsu dan tegaklah seperti Alif.
Selamat sore ;)
TMII, 15.03
Sunday, January 03, 2010
The Meaning of True Love
He says
"Just let me love you"
She says
"But I love somebody else"
He replies
"Love doesn't need a feedback"
She finds it hard to believe
"Someday you will regret it and blame me"
He smiles to that
"Love is a blessing. Why should anyone regret it"
She's a realist
"Reality hurts more that fiction. We all know that investing something outside oneself is a risk"
He's more in love than ever
"Dear, being alive is a risk..."
"Just let me love you"
She says
"But I love somebody else"
He replies
"Love doesn't need a feedback"
She finds it hard to believe
"Someday you will regret it and blame me"
He smiles to that
"Love is a blessing. Why should anyone regret it"
She's a realist
"Reality hurts more that fiction. We all know that investing something outside oneself is a risk"
He's more in love than ever
"Dear, being alive is a risk..."
[another] love letter
Hi dear...
Do you remember you once said that you would stop the time
so you can always hug me
and you would sleep on my lap
feeling all peaceful and glad?
No more expectations from the world...
No more chasing, no more running...
We would hold silence in our palms
and not say a thing
We're just so happy to be together,
hell with the world :)
We never understood, at that very moment
you DID stopped the time...
I hold it dearly in my heart
You carry it deeply in your soul
None of us realize it...
None of us think it matters
You see, we live in a world of balance
For every action, there will be equal reaction.
It is fair.
It is balanced
It is the law.
What we say bound us.
We are fully responsible of our words and behaviour.
All those love, came from heart...
All those care, truth from the start...
So... now you're in that body
and I'm in this body.
I believe things happen for a reason.
I might have hurt you in the past,
that was my part.
You had never tried to make it right
that was your part.
In this bodiless experience we're having
I need not to say I love you the same.
And I need not to know your affirmation.
Remember, for every action there will be an equal reaction.
So in times, I'm calling your soul to come meet your loved ones
In times, you called me for help and I as you know
I have and will always always be there.
We have each other no matter what...
Again, through time and decades
we blast the meaning of time
blast from the past
You will always have my support
my love
my understanding
my forgiveness
my approval
my everything
when two souls become one
it is not a matter of physical collaboration,
it's a matter of material blending in the universe.
Take a rest, dear...
You need that..
Do you remember you once said that you would stop the time
so you can always hug me
and you would sleep on my lap
feeling all peaceful and glad?
No more expectations from the world...
No more chasing, no more running...
We would hold silence in our palms
and not say a thing
We're just so happy to be together,
hell with the world :)
We never understood, at that very moment
you DID stopped the time...
I hold it dearly in my heart
You carry it deeply in your soul
None of us realize it...
None of us think it matters
You see, we live in a world of balance
For every action, there will be equal reaction.
It is fair.
It is balanced
It is the law.
What we say bound us.
We are fully responsible of our words and behaviour.
All those love, came from heart...
All those care, truth from the start...
So... now you're in that body
and I'm in this body.
I believe things happen for a reason.
I might have hurt you in the past,
that was my part.
You had never tried to make it right
that was your part.
In this bodiless experience we're having
I need not to say I love you the same.
And I need not to know your affirmation.
Remember, for every action there will be an equal reaction.
So in times, I'm calling your soul to come meet your loved ones
In times, you called me for help and I as you know
I have and will always always be there.
We have each other no matter what...
Again, through time and decades
we blast the meaning of time
blast from the past
You will always have my support
my love
my understanding
my forgiveness
my approval
my everything
when two souls become one
it is not a matter of physical collaboration,
it's a matter of material blending in the universe.
Take a rest, dear...
You need that..
The Most Romantic Thing
Saya belajar banyak dari teman-teman saya,
tentang cinta, kekecewaan, dan pengorbanan.
Namun ada satu perempuan, panggil dia Rara, yang sangat membekas di hati saya.
Rara adalah seorang perempuan yang hancur lebur jatuh cinta pada seorang laki-laki, sebut namanya Adam.
Adam, seperti kebanyakan laki-laki lainnya, tidak mau memutuskan apakah ia cinta, menyukai, atau menafsui Rara.
Dan meski Adam kerap menjadikannya bak bola bekel, yang setelah dilempar mental JAUUUH sekali tidak dipungut kembali, Rara tetap mencintainya, luar dalam, langit bumi.
Bertahun-tahun berlalu,
Adam telah menikah dan Rara tak pernah pulih dari cintanya yang rusak itu.
Ya Rara punya banyak laki-laki pelipur lara, tapi dia tau, Adam is the one she loves.
Ada masanya di mana Adam kembali pada Rara, tepat sebelum ia menikah, dan ketika telah menikah. Rara tahu Adam memiliki pengaruh terlalu besar untuknya.
Dia tidak bisa mengatakan Tidak pada laki-laki satu itu.
Dia akan menyerahkan tak hanya harta, keperawanan, harga diri, namun juga nyawa bila Adam menginginkannya.
And mind you, Rara adalah perempuan yang sangat cerdas, berhasil, terhormat, dan tipe perempuan baik-baik yang takkan bisa dibawa check in meski ditukar sejuta dollar sekalipun.
Ketika Adam menikah dan hubungannya goyang dengan sang istri,
Adam kembali ke pelukan Rara yang berusaha keras menghindar.
Saya bertanya padanya,
"Ra, bukannya itu yang kamu inginkan?
Mendapatkan Adam seutuhnya?
To have him so you can love him?"
Rara hanya tersenyum dan menjawab,
"Justru karena I love him, Za, I let him go.
Perempuan bisa menjadi 2 di dunia ini: Permata atau Penggoda.
Saya tidak ingin merusak hidupnya dengan menjadi penggoda imannya.
Cukuplah saya menjadi permata dalam hidupnya, dan menjaga kesucian cinta saya ini dengan memastikan dia menjadi orang yang baik dan lurus.
Terlindungi dari dosa, setidaknya akibat saya."
Saya terhenyak,
"Bukankah kau menderita, Ra?
Hidup tanpa bisa memiliki orang yang kau cintai?
Malah harus menyaksikannya dengan perempuan lain?
Dan ia pun kerap menelponmu untuk bercerita betapa bahagia hidup mereka berdua, penuh dengan impian-impian yang harusnya bisa jadi milikmu?"
Rara menyulut Sampoerna merahnya,
rokok yang sama yang juga saya hisap,
"Itu yang kamu belum mengerti, Za.
Cinta bukan sebuah tujuan. Bukan pula sebuah alat.
Cinta tidak untuk dimengerti, atau didebat.
Atas nama cinta, saya terkesan menghamba.
Padahal cinta takkan mampu membuat saya berlutut pada nafsu.
Saya bisa orgasme kok, hanya dengan membayangkan senyumnya haha...
Dan saya akan lebih bahagia lagi, Za, kalau bisa menjadi perempuan terbaik untuknya, tanpa dia harus menyadarinya.
Mencintai tak harus memiliki, Neng.
Menurut beberapa orang itu hal yang bodoh, tapi buat saya, Cinta itu Sakral!
Dan cinta saya Za, seperti yang kamu tahu, tidak diobral.
Saya cinta Adam.
Dan meski kelak saya akan menikah, dan mencintai suami saya, cerita dan cinta saya dengan Adam, adalah babak lain dalam kehidupan saya yang menjadikan saya utuh seperti ini.
Saya menghormati rasa cinta itu.
Saya menerimanya, apa adanya..."
Saya tahu, teman-teman dekat kami menyebut gayanya itu
"Idealisme Gantung Diri".
Ibarat menyediakan diri sebagai Papan Dart yang bisa dilempari panah oleh laki-laki yang dicinta. Untuk kemudian ditinggalkan dalam keadaan "rusak", "sakit", dan "tidak diakui".
Tapi hei.. siapa kita untuk mencap orang-orang seperti Rara sebagai Rusak, Sakit, dan Tidak Diakui.
Saat dia merasa sangat kaya dengan cintanya itu.
Dan bisa menitikkan mata saat Adam dan istrinya mengirim email foto anak mereka.
Dia menangis bahagia untuk kebahagiaan Adam
dan dia berterima kasih pada istrinya karena telah berhasil membuat orang yang paling dia cintai itu bahagia...
Well done Rara!
Percayalah, cinta itu takkan pernah mengkhianatimu, sebab kau tak pernah menyalahgunakannya. I have faith on you...
Tapi entah kenapa, kadang hati ini miris sekali melihat senyum sekaligus air mata di wajahmu. Saya tak pernah bisa menyimpulkan, apakah kau sedang bahagia atau bersedih.
Maaf Ra, saya tidak bisa menjadi pelampung bagi hatimu yang belum berlabuh...
tentang cinta, kekecewaan, dan pengorbanan.
Namun ada satu perempuan, panggil dia Rara, yang sangat membekas di hati saya.
Rara adalah seorang perempuan yang hancur lebur jatuh cinta pada seorang laki-laki, sebut namanya Adam.
Adam, seperti kebanyakan laki-laki lainnya, tidak mau memutuskan apakah ia cinta, menyukai, atau menafsui Rara.
Dan meski Adam kerap menjadikannya bak bola bekel, yang setelah dilempar mental JAUUUH sekali tidak dipungut kembali, Rara tetap mencintainya, luar dalam, langit bumi.
Bertahun-tahun berlalu,
Adam telah menikah dan Rara tak pernah pulih dari cintanya yang rusak itu.
Ya Rara punya banyak laki-laki pelipur lara, tapi dia tau, Adam is the one she loves.
Ada masanya di mana Adam kembali pada Rara, tepat sebelum ia menikah, dan ketika telah menikah. Rara tahu Adam memiliki pengaruh terlalu besar untuknya.
Dia tidak bisa mengatakan Tidak pada laki-laki satu itu.
Dia akan menyerahkan tak hanya harta, keperawanan, harga diri, namun juga nyawa bila Adam menginginkannya.
And mind you, Rara adalah perempuan yang sangat cerdas, berhasil, terhormat, dan tipe perempuan baik-baik yang takkan bisa dibawa check in meski ditukar sejuta dollar sekalipun.
Ketika Adam menikah dan hubungannya goyang dengan sang istri,
Adam kembali ke pelukan Rara yang berusaha keras menghindar.
Saya bertanya padanya,
"Ra, bukannya itu yang kamu inginkan?
Mendapatkan Adam seutuhnya?
To have him so you can love him?"
Rara hanya tersenyum dan menjawab,
"Justru karena I love him, Za, I let him go.
Perempuan bisa menjadi 2 di dunia ini: Permata atau Penggoda.
Saya tidak ingin merusak hidupnya dengan menjadi penggoda imannya.
Cukuplah saya menjadi permata dalam hidupnya, dan menjaga kesucian cinta saya ini dengan memastikan dia menjadi orang yang baik dan lurus.
Terlindungi dari dosa, setidaknya akibat saya."
Saya terhenyak,
"Bukankah kau menderita, Ra?
Hidup tanpa bisa memiliki orang yang kau cintai?
Malah harus menyaksikannya dengan perempuan lain?
Dan ia pun kerap menelponmu untuk bercerita betapa bahagia hidup mereka berdua, penuh dengan impian-impian yang harusnya bisa jadi milikmu?"
Rara menyulut Sampoerna merahnya,
rokok yang sama yang juga saya hisap,
"Itu yang kamu belum mengerti, Za.
Cinta bukan sebuah tujuan. Bukan pula sebuah alat.
Cinta tidak untuk dimengerti, atau didebat.
Atas nama cinta, saya terkesan menghamba.
Padahal cinta takkan mampu membuat saya berlutut pada nafsu.
Saya bisa orgasme kok, hanya dengan membayangkan senyumnya haha...
Dan saya akan lebih bahagia lagi, Za, kalau bisa menjadi perempuan terbaik untuknya, tanpa dia harus menyadarinya.
Mencintai tak harus memiliki, Neng.
Menurut beberapa orang itu hal yang bodoh, tapi buat saya, Cinta itu Sakral!
Dan cinta saya Za, seperti yang kamu tahu, tidak diobral.
Saya cinta Adam.
Dan meski kelak saya akan menikah, dan mencintai suami saya, cerita dan cinta saya dengan Adam, adalah babak lain dalam kehidupan saya yang menjadikan saya utuh seperti ini.
Saya menghormati rasa cinta itu.
Saya menerimanya, apa adanya..."
Saya tahu, teman-teman dekat kami menyebut gayanya itu
"Idealisme Gantung Diri".
Ibarat menyediakan diri sebagai Papan Dart yang bisa dilempari panah oleh laki-laki yang dicinta. Untuk kemudian ditinggalkan dalam keadaan "rusak", "sakit", dan "tidak diakui".
Tapi hei.. siapa kita untuk mencap orang-orang seperti Rara sebagai Rusak, Sakit, dan Tidak Diakui.
Saat dia merasa sangat kaya dengan cintanya itu.
Dan bisa menitikkan mata saat Adam dan istrinya mengirim email foto anak mereka.
Dia menangis bahagia untuk kebahagiaan Adam
dan dia berterima kasih pada istrinya karena telah berhasil membuat orang yang paling dia cintai itu bahagia...
Well done Rara!
Percayalah, cinta itu takkan pernah mengkhianatimu, sebab kau tak pernah menyalahgunakannya. I have faith on you...
Tapi entah kenapa, kadang hati ini miris sekali melihat senyum sekaligus air mata di wajahmu. Saya tak pernah bisa menyimpulkan, apakah kau sedang bahagia atau bersedih.
Maaf Ra, saya tidak bisa menjadi pelampung bagi hatimu yang belum berlabuh...
Pakaian Terindah
Apa bedanya menikah dan pacaran?
Saat pertama menikah, yang ada di dalam benak kita adalah bulan madu abadi.
Beberapa lama kemudian baru kita sadar bahwa pernikahan tidak sesederhana itu.
Tak cuma manis, tapi juga getir dan terkadang penuh ironi ;)
Bukan sekadar pacaran tanpa jam malam, atau pacaran dalam jangka waktu lama, tapi juga berantem tanpa jam pulang untuk rehat, atau kompromi alot yang bisa berakhir dengan tidur beda kamar.
Complicated, marriage is. So Yoda said hehe
Beberapa lama saya pacaran dengan suami meski kami telah menikah.
Saya belajar banyak hal, namun satu yang terpatri dalam hati saya:
Ajaran Islam yang mengajarkan bahwa suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain.
Di mana kekurangan suami, istri harus bisa menutupinya. Begitu pula sebaliknya.
Begitu indah, romantis... dan terhormat.
Saya menganggap, ternyata menjadi istri seseorang, tak hanya kita memakai cap "TAKEN" atau "Sudah Laku" di kepala.
Saya belajar untuk menjaga kehormatan saya, dan kehormatan suami saya.
Mana yang kurang dari dia, saya berusaha menutupi. Sebisa mungkin, saya tidak curhat ke orang apalagi menjelek-jelekkan suami saya. Bila tak tahan, maka saya akan menulis curhatan itu lalu menghapusnya.
Atau menjadikan itu sebagai bahan tulisan (dengan nama disamarkan, tentu saja) lalu mempublikasikannya di majalah ;D atau menaruh di multiply seakan itu cerita orang lain.
Saya berusaha menjadi baju terindah untuk suami saya tercinta.
Berhasilkah?
Saya tidak tahu.
Meski menikah, beberapa laki-laki dari masa lalu kerap menghampiri.
Saya bisa bermain api bila saya mau, tapi itu tidak saya lakukan.
Berkata mesra atau kelewat manis pun saya hindari.
Kenapa?
Sebab saya menghargai dan menyayangi suami saya,... pakaian saya.
Bila saya meladeni para laki-laki tak tahu malu yang harus disunat dengan pisau tumpul 1000x itu,
tandanya saya mencoreng muka suami saya.
Mempermalukannya.
Menodainya.
Menistakannya.
Lalu pernikahan kami pun tak ada harganya lagi.
Anak-anak kami pun saya khianati.
Seram sekali ya?
A chain reaction of a careless mind, can kill or ruin a person's life.
Pakaian terindah itu, semoga kalian semua jaga dengan hati-hati.
Sekali ternoda, sulit untuk membersihkannya.
Some can, some would just throw it away.
Me?
I told u, I don't believe in 2nd chance.
Saat pertama menikah, yang ada di dalam benak kita adalah bulan madu abadi.
Beberapa lama kemudian baru kita sadar bahwa pernikahan tidak sesederhana itu.
Tak cuma manis, tapi juga getir dan terkadang penuh ironi ;)
Bukan sekadar pacaran tanpa jam malam, atau pacaran dalam jangka waktu lama, tapi juga berantem tanpa jam pulang untuk rehat, atau kompromi alot yang bisa berakhir dengan tidur beda kamar.
Complicated, marriage is. So Yoda said hehe
Beberapa lama saya pacaran dengan suami meski kami telah menikah.
Saya belajar banyak hal, namun satu yang terpatri dalam hati saya:
Ajaran Islam yang mengajarkan bahwa suami istri adalah pakaian bagi satu sama lain.
Di mana kekurangan suami, istri harus bisa menutupinya. Begitu pula sebaliknya.
Begitu indah, romantis... dan terhormat.
Saya menganggap, ternyata menjadi istri seseorang, tak hanya kita memakai cap "TAKEN" atau "Sudah Laku" di kepala.
Saya belajar untuk menjaga kehormatan saya, dan kehormatan suami saya.
Mana yang kurang dari dia, saya berusaha menutupi. Sebisa mungkin, saya tidak curhat ke orang apalagi menjelek-jelekkan suami saya. Bila tak tahan, maka saya akan menulis curhatan itu lalu menghapusnya.
Atau menjadikan itu sebagai bahan tulisan (dengan nama disamarkan, tentu saja) lalu mempublikasikannya di majalah ;D atau menaruh di multiply seakan itu cerita orang lain.
Saya berusaha menjadi baju terindah untuk suami saya tercinta.
Berhasilkah?
Saya tidak tahu.
Meski menikah, beberapa laki-laki dari masa lalu kerap menghampiri.
Saya bisa bermain api bila saya mau, tapi itu tidak saya lakukan.
Berkata mesra atau kelewat manis pun saya hindari.
Kenapa?
Sebab saya menghargai dan menyayangi suami saya,... pakaian saya.
Bila saya meladeni para laki-laki tak tahu malu yang harus disunat dengan pisau tumpul 1000x itu,
tandanya saya mencoreng muka suami saya.
Mempermalukannya.
Menodainya.
Menistakannya.
Lalu pernikahan kami pun tak ada harganya lagi.
Anak-anak kami pun saya khianati.
Seram sekali ya?
A chain reaction of a careless mind, can kill or ruin a person's life.
Pakaian terindah itu, semoga kalian semua jaga dengan hati-hati.
Sekali ternoda, sulit untuk membersihkannya.
Some can, some would just throw it away.
Me?
I told u, I don't believe in 2nd chance.
Understanding Unconditional Love
How many times have u said "I love u?"
How many times you really meant it?
Or is it just... words?
Will u still love if he doesn't love u back?
Will u still love if he treats u badly?
Will u still love when there's nothing to eat?
Will u still love when there's no place to sleep?
Will u still love if he's not the same person u fell in love with?
I had the chance to learn about unconditional love few days ago.
I had some problems with my one and only, and at that moment I had to make a decision.
Yes, we have some problems, but who doesn't?
Yes, it hurts so bad, but we had so many great times too.
As I reminisced the old days when we're together, madly in love with each other, I remember what I said to myself,
"This is the person I'm gonna love for the rest of my life. And I love him, unconditionally..."
I didn't have to count his good deeds, I already knew they'll beat his flaws.
I didn't have to do the math to have the result of my heart.
I felt that warm feeling inside me; though I was cold, sad, hungry at that moment.
I love u no matter what.
I do love you no matter what you did, do, or will do.
I love u unconditionally.
It's hard for me to understand it, and even harder to accept it.
I love u not because u love me back.
I love u not because u're kind to me.
I love u not because u never broke my heart.
I love u not because I carried ur children.
I love u not because I can't "unlove" u...
I love u because I do
Because my heart beats faster when I saw u walked through that door,
Don't u know they say I shine when u're around?
I love because of u
You thought me love without words, but by giving me all u can, all u have. And I'm not so blind or stupid to ignore it...
So, do what u need to do.
I can only pray you will not hurt me more than what we've been through.
These past days I learned that Love should not be valued by the amount of love you gave me, nor by the same treatment I gave u so u oblige to me.
It should be valued by myself.
By who I am.
This is me, ur wife, loving u, unconditionally.
I can't make u love me the way I love u
But that's okay.
Because I know that u do, eventhough I never asked u to.
How many times you really meant it?
Or is it just... words?
Will u still love if he doesn't love u back?
Will u still love if he treats u badly?
Will u still love when there's nothing to eat?
Will u still love when there's no place to sleep?
Will u still love if he's not the same person u fell in love with?
I had the chance to learn about unconditional love few days ago.
I had some problems with my one and only, and at that moment I had to make a decision.
Yes, we have some problems, but who doesn't?
Yes, it hurts so bad, but we had so many great times too.
As I reminisced the old days when we're together, madly in love with each other, I remember what I said to myself,
"This is the person I'm gonna love for the rest of my life. And I love him, unconditionally..."
I didn't have to count his good deeds, I already knew they'll beat his flaws.
I didn't have to do the math to have the result of my heart.
I felt that warm feeling inside me; though I was cold, sad, hungry at that moment.
I love u no matter what.
I do love you no matter what you did, do, or will do.
I love u unconditionally.
It's hard for me to understand it, and even harder to accept it.
I love u not because u love me back.
I love u not because u're kind to me.
I love u not because u never broke my heart.
I love u not because I carried ur children.
I love u not because I can't "unlove" u...
I love u because I do
Because my heart beats faster when I saw u walked through that door,
Don't u know they say I shine when u're around?
I love because of u
You thought me love without words, but by giving me all u can, all u have. And I'm not so blind or stupid to ignore it...
So, do what u need to do.
I can only pray you will not hurt me more than what we've been through.
These past days I learned that Love should not be valued by the amount of love you gave me, nor by the same treatment I gave u so u oblige to me.
It should be valued by myself.
By who I am.
This is me, ur wife, loving u, unconditionally.
I can't make u love me the way I love u
But that's okay.
Because I know that u do, eventhough I never asked u to.
Not a Happy Ending... Really?
Beberapa waktu yang lalu, usai double meeting, saya nongkrong di Starbucks yang makin lama jadi berasa rumah ke-2 :p
Lalu teman meeting saya bercerita tentang film Cast Away yg dibintangi oleh Tom Hanks.
Dia bilang, prinsip hidupnya, "To survive is easy, to exceed is a challenge".
We can surely say he's a positive and confident person, and he is :)
Prinsip hidupnya itu diamini oleh karakter Tom di film tsb.
Kalau cuma untuk bertahan hidup, dia bisa melakukannya.
Tapi untuk mendapatkan hal-hal lebih, itulah tantangannya...
Saya memikirkan begitu banyak manusia di jagad bumi ini yang untuk survive saja empot-empotan.
Saya yakin Tuhan maha pengasih & penyayang, tak pilih kasih tak pilih sayang, dan saya yakin sekali semua orang punya kesempatan untuk menentukan hidupnya.
Banyak orang miskin yang kelak jadi sangat kaya. Ada pula yg lahirnya kaya raya di masa depan biasa saja karena tak mampu memanfaatkan aset keluarga atau karena dikondisikan terlalu nyaman jadi pemalas.
Balik lagi ke Cast Away...
Teman saya itu bilang film itu film sedih, nggak happy ending.
Alasannya karena si cowok nggak bisa menikah dengan ceweknya, yang mengira dia sudah meninggal hingga akhirnya menikah dengan lelaki lain.
"Bayangin aja, pas berangkat dia udah beli cincin segala..." Ironislah!
Tapi secara spontan saya menyanggah,
"I think it's a happy ending movie :)
I mean, to know that our loved one is okay. To know that he or she is happy, eventhough we can't give him/her that happiness ourselves...
Si perempuannya senang si Tom selamat dan kembali ke peradaban.
Si Tom senang wanita itu memiliki suami dan anak yang mencintainya.
Tidak kesepian dan sedih selama ditinggalkan bertahun-tahun...
It's a happy ending..."
Kata teman saya, cinta yang seperti itu sangatlah berat dan jarang. Sebab cinta bisa disertai ego.
I want her to be mine. Titik.
Saya cuma bisa tersenyum.
Ya... Umurmu mungkin lebih tua dari saya, teman, tapi kisah cintamu mungkin kurang menantang dibanding saya hahaha....
Lalu teman meeting saya bercerita tentang film Cast Away yg dibintangi oleh Tom Hanks.
Dia bilang, prinsip hidupnya, "To survive is easy, to exceed is a challenge".
We can surely say he's a positive and confident person, and he is :)
Prinsip hidupnya itu diamini oleh karakter Tom di film tsb.
Kalau cuma untuk bertahan hidup, dia bisa melakukannya.
Tapi untuk mendapatkan hal-hal lebih, itulah tantangannya...
Saya memikirkan begitu banyak manusia di jagad bumi ini yang untuk survive saja empot-empotan.
Saya yakin Tuhan maha pengasih & penyayang, tak pilih kasih tak pilih sayang, dan saya yakin sekali semua orang punya kesempatan untuk menentukan hidupnya.
Banyak orang miskin yang kelak jadi sangat kaya. Ada pula yg lahirnya kaya raya di masa depan biasa saja karena tak mampu memanfaatkan aset keluarga atau karena dikondisikan terlalu nyaman jadi pemalas.
Balik lagi ke Cast Away...
Teman saya itu bilang film itu film sedih, nggak happy ending.
Alasannya karena si cowok nggak bisa menikah dengan ceweknya, yang mengira dia sudah meninggal hingga akhirnya menikah dengan lelaki lain.
"Bayangin aja, pas berangkat dia udah beli cincin segala..." Ironislah!
Tapi secara spontan saya menyanggah,
"I think it's a happy ending movie :)
I mean, to know that our loved one is okay. To know that he or she is happy, eventhough we can't give him/her that happiness ourselves...
Si perempuannya senang si Tom selamat dan kembali ke peradaban.
Si Tom senang wanita itu memiliki suami dan anak yang mencintainya.
Tidak kesepian dan sedih selama ditinggalkan bertahun-tahun...
It's a happy ending..."
Kata teman saya, cinta yang seperti itu sangatlah berat dan jarang. Sebab cinta bisa disertai ego.
I want her to be mine. Titik.
Saya cuma bisa tersenyum.
Ya... Umurmu mungkin lebih tua dari saya, teman, tapi kisah cintamu mungkin kurang menantang dibanding saya hahaha....
Ketika Kau Tertidur
Kupandangi wajahmu yang damai
Aku berpikir sampaikah cintaku ke alam mimpimu?
Sekian tahun berlalu,
dan entah kenapa aku tidak merasa bosan
padahal kamupun tahu, bosan itu nama tengahku ;)
Bisa jadi karena kau seperti air
yang mengikuti wadahku yang kerap berubah,
yang menyiramku saat ku panas,
yang membasuhku saat ku kotor,
yang memenuhi dahaga saat ku haus,
yang tak hanya indah, tapi juga mutlak ada.
Lelaplah kau dalam tidurmu, dear
yakin bahwa aku di sini selalu
Malam-malam seperti ini kerap terjadi...
Ketika kau tertidur
aku terjaga
dan mengirimkan cinta, doa, juga permohonanku
Agar Dia menjagamu, berbaik hati padamu, memaafkanmu, membimbing langkahmu...
Ketika kau tertidur
aku terjaga
aku bekerja
Ini pekerjaan terbaik yang dapat aku lakukan:
mencintaimu...
0.39
tmii, 4.6.09
iwishicouldtellyouhowmuchyoumeantomebuticantsoiwritethishopeitdeliversthemessage
Aku berpikir sampaikah cintaku ke alam mimpimu?
Sekian tahun berlalu,
dan entah kenapa aku tidak merasa bosan
padahal kamupun tahu, bosan itu nama tengahku ;)
Bisa jadi karena kau seperti air
yang mengikuti wadahku yang kerap berubah,
yang menyiramku saat ku panas,
yang membasuhku saat ku kotor,
yang memenuhi dahaga saat ku haus,
yang tak hanya indah, tapi juga mutlak ada.
Lelaplah kau dalam tidurmu, dear
yakin bahwa aku di sini selalu
Malam-malam seperti ini kerap terjadi...
Ketika kau tertidur
aku terjaga
dan mengirimkan cinta, doa, juga permohonanku
Agar Dia menjagamu, berbaik hati padamu, memaafkanmu, membimbing langkahmu...
Ketika kau tertidur
aku terjaga
aku bekerja
Ini pekerjaan terbaik yang dapat aku lakukan:
mencintaimu...
0.39
tmii, 4.6.09
iwishicouldtellyouhowmuchy
Subscribe to:
Posts (Atom)




