Sadarlah dalam nikmat yang kau rasakan
Sabarlah dalam sakit yang kau dapatkan
Ikhlaslah dengan hidup yang kau jalani
Ijinkan alam membuat ceritanya sendiri
Tuhan teramat sayang kita semua
Berhentilah merasa sedih dan berdosa
Jalani semua semampumu saja
Berhentilah menyakiti dirimu sendiri
Dengan segepok cinta dan rasa sayang, dengan semilyar pengertian kuberikan,
untuk semua sahabat yang mencari pelabuhan;
aku di sini. Selalu di sini.
Berusaha mengerti Dia dan menjalani cerita kehidupan.
Mencoba sebaik mungkin, berharap Dia tahu aku sudah berusaha.
Menyungkurkan badan rata dengan tanah,
berucap syukur, maaf, ampunan, dan campuran berjuta rasa yang sulit dikisahkan...
Kita harus hidup dengan bahagia. Dengan senyum di hati & di muka.
Mari kita mencoba :)
Untuk Eka Permana, seorang sahabat yang sedang dapat ujian untuk naik kelas; we love you, man!
Get well soon...
Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Tuesday, July 19, 2011
Sunday, June 05, 2011
Pelita
Ada cahaya dalam dirimu yang selalu menarikku kembali
Seberapa jauh aku ingin berlari,
selalu kembali.
Seorang sahabat tidak memerlukan pertemuan untuk mengolah rasa dan bersatu
Cukup merasakan kau ada di sana, dan aku di sini.
Terkadang rindu sungguh kejam, di per sekian detik engkau datang tanpa bicara
Meninggalkanku bertanya-tanya
Lalu tersenyum
Aku percaya Tuhan akan menjagamu,
dalam tidurmu, susahmu, sedihmu, tawamu, tangismu, gundahmu,
Hanya doa hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada sahabat
Doa terbaik bagi Sahabat terbaik
Yang baik saja untukmu, agar dirimu semakin utuh sebagai jiwa
Dan tetaplah bersabar dengan hatimu yang lapar
Bila kau letih, aku akan ada di sini. Dalam manifestasi jiwa bila raga sudah tak ada.
Bersandarlah padaku, sebab aku akan selalu ada untukmu.
Untuk jiwa yang letih,
sahabatku tersayang,
Dia tahu kita sudah mencoba yang terbaik. Dia memaafkan. Dan dia paham.
Seberapa jauh aku ingin berlari,
selalu kembali.
Seorang sahabat tidak memerlukan pertemuan untuk mengolah rasa dan bersatu
Cukup merasakan kau ada di sana, dan aku di sini.
Terkadang rindu sungguh kejam, di per sekian detik engkau datang tanpa bicara
Meninggalkanku bertanya-tanya
Lalu tersenyum
Aku percaya Tuhan akan menjagamu,
dalam tidurmu, susahmu, sedihmu, tawamu, tangismu, gundahmu,
Hanya doa hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada sahabat
Doa terbaik bagi Sahabat terbaik
Yang baik saja untukmu, agar dirimu semakin utuh sebagai jiwa
Dan tetaplah bersabar dengan hatimu yang lapar
Bila kau letih, aku akan ada di sini. Dalam manifestasi jiwa bila raga sudah tak ada.
Bersandarlah padaku, sebab aku akan selalu ada untukmu.
Untuk jiwa yang letih,
sahabatku tersayang,
Dia tahu kita sudah mencoba yang terbaik. Dia memaafkan. Dan dia paham.
Tuesday, May 24, 2011
Telor Ceplok yang Membuat Menangis
April 26, 2009 (posted in my FB Notes)
Reading this, brings back all my feelings those days.
========
Beberapa waktu lalu, saya mengalami sedikit guncangan dalam hidup.
Berusaha menyembuhkan diri sendiri, saya menyepi ke Bandung.
Kelaparan, kesepian, sedih, saya tahu satu tempat yang saya tuju: rumah sahabat.
Rumah sahabat saya tidak besar dan mewah. Tapi rumah itu benar2 terasa seperti tempat untuk pulang yang nyaman.. Mainan berserakan, ada runtuhan rambut hihi, terlihat yang punya agak keteteran :)
Tapi sahabat saya yang tahu betul saya tak suka dipeluk kalau lagi sedih benar-benar mengerti saya tanpa perlu didikte.
Dia duduk, dan berceloteh kian kemari. Kadang saya menggerundel dan dia akan menanggapi, entah nyambung atau nggak kami gak peduli.
Perut saya pedih, belum makan seharian.
"Gue belum makan,".
Dia menjawab, "Hari ini gue gak masaak. Tapi ada nasi sih.. Lo mau telor ceplok?".
"Yes, please..."
Cukup heboh juga dia berkutat di dapur, tak lama sepiring nasi hangat, telor ceplok dan kecap terhidang di muka saya..
Saya makan dengan sangat lahap.
Teringat di lidah rasa makanan itu, enaak sekali.
Tak terasa air mata menggenang di sudut mata.
Saya makan sambil menahan tangis.
Bukan, bukan karena makanannya terlalu sederhana.
Tapi karena saya merasakan sendiri karunia Tuhan yang sangat indah; orang, tak berhubungan darah, yang mau menyediakan tempat berteduh bagi saya di kala saya susah, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa...
Saya bisa menginap di hotel.
Bisa makan steak kalau mau.
Bisa clubbing cari teman kalau butuh.
Tapi saya tahu saya tidak butuh itu semua. Saya punya seorang sahabat yang menerima saya apa adanya.
And it goes right back at you, dear!
I might not say it loud enough, but those moments are well-kept in my heart :*
Thank you, for being there, always.
Reading this, brings back all my feelings those days.
========
Beberapa waktu lalu, saya mengalami sedikit guncangan dalam hidup.
Berusaha menyembuhkan diri sendiri, saya menyepi ke Bandung.
Kelaparan, kesepian, sedih, saya tahu satu tempat yang saya tuju: rumah sahabat.
Rumah sahabat saya tidak besar dan mewah. Tapi rumah itu benar2 terasa seperti tempat untuk pulang yang nyaman.. Mainan berserakan, ada runtuhan rambut hihi, terlihat yang punya agak keteteran :)
Tapi sahabat saya yang tahu betul saya tak suka dipeluk kalau lagi sedih benar-benar mengerti saya tanpa perlu didikte.
Dia duduk, dan berceloteh kian kemari. Kadang saya menggerundel dan dia akan menanggapi, entah nyambung atau nggak kami gak peduli.
Perut saya pedih, belum makan seharian.
"Gue belum makan,".
Dia menjawab, "Hari ini gue gak masaak. Tapi ada nasi sih.. Lo mau telor ceplok?".
"Yes, please..."
Cukup heboh juga dia berkutat di dapur, tak lama sepiring nasi hangat, telor ceplok dan kecap terhidang di muka saya..
Saya makan dengan sangat lahap.
Teringat di lidah rasa makanan itu, enaak sekali.
Tak terasa air mata menggenang di sudut mata.
Saya makan sambil menahan tangis.
Bukan, bukan karena makanannya terlalu sederhana.
Tapi karena saya merasakan sendiri karunia Tuhan yang sangat indah; orang, tak berhubungan darah, yang mau menyediakan tempat berteduh bagi saya di kala saya susah, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa...
Saya bisa menginap di hotel.
Bisa makan steak kalau mau.
Bisa clubbing cari teman kalau butuh.
Tapi saya tahu saya tidak butuh itu semua. Saya punya seorang sahabat yang menerima saya apa adanya.
And it goes right back at you, dear!
I might not say it loud enough, but those moments are well-kept in my heart :*
Thank you, for being there, always.
Subscribe to:
Posts (Atom)